Translate

Pangling!


Kubaca satu inbox di facebookku,”Apa kabar LOV?”

Kulihat fotonya dengan seksama. Sumpah, aku tak bisa mengenalinya dengan jelas. Foto seorang lelaki ‘tua’ dengan senyum yang tak jelas.  Kubaca namanya Firman.  Kubuka album-album fotonya.  Kucoba mengingat-ingat siapa gerangan pemilik foto ini.  Aku benar-benar tak bisa mengingatnya.

“Maaf, apa kita pernah ketemu?”

Guys, message yang kukirim itu memang akan menimbulkan rasa yang tidak enak pada penerimanya.  Apalagi kalaulah ternyata memang si ‘Firman’ ini adalah teman lamaku.  Dia pasti akan menganggapku orang yang sok.  Orang yang jaim alias munafik. Tapi ini lebih baik, karena aku sendiri penasaran dengannya.  Segala sesuatu bisa saja terjadi dalam rentang waktu yang lama. Bisa jadi aku memang sudah tak bisa lagi mengenal ‘sosok’ si Firman yang sekarang.

“LOV … kamu sombong. Kita pernah ttm-an. Inget Paris 236?”





Ya Tuhan … Kode Paris 236 jelaslah masih masuk dalam ingatanku.  Itu Kamar Hotel yang kami sewa saat pertama kali bercinta dengan Firman dulu.  Setelah itu aku memang masih sering membooking hotel itu bersama pria-pria lain. Tapi tak pernah menempati kamar bernomor 236 lagi.  Aku teringat jelas dengan kenangan-kenanganku bersama Firman.

Firmanlah lelaki pertama yang sanggup membuatku menangis. Guys, menangisi seorang pria jelas-jelas bukan perbuatan seorang yang gentleman.  Orang-orang pasti menjudge aku sebagai lelaki yang alay, ababil atau sentimentil.

Bukan salah Firman memang.  Semua memang salahku sendiri karena mencintai lelaki yang sudah punya pasangan.  Aku tahu, pasangan Firman adalah seorang lelaki dewasa yang tampan, mapan dan terkenal. Entah kenapa saat itu dia menyatakan rasa sukanya padaku.  Kami sama-sama suka, walau dalam lubuk hati yang paling dalam aku menyadari kesalahanku itu.

Ketampanan dan kegagahan Firmanlah yang membuatku melupakan statusnya.

Singkatnya, Firman adalah lelaki sempurna.  Dia itu tampan, pandai, dewasa dan tak materialistis.  Dia menerimaku apa adanya.  Dia mengerti semua kebutuhan-kebutuhanku.  Dia tahu bagaimana cara menyenangkan aku. Dia tahu bagaimana cara membuatku tersenyum.  Aku bahagia bersamanya.

Kesadaranku muncul saat kami bertemu dalam satu party.

Firman terlihat bahagia bersama pasangannya. Firman terlihat mesra dan romantis bersama pasangannya itu.  Aku cemburu.  Aku meradang.  Aku kecewa.  Aku merasa hanya menjadi tambal butuhnya saja.  Dia pernah bilang, secara seksual dia mendapat kepuasan maksimal dariku.

“OHO … jadi itu posisiku.  Hanya sebagai pemuas kebutuhan seksualnya,” itu kata-kata yang terngiang dalam pikiranku.  Benar-benar menggoncangkan keegoisanku.  Aku lupa, bahwa aku juga yang salah.  Kami berdua yang salah, tepatnya.

Dalam kesempatan itu pula, Firman mendekatiku dan berbisik,”Be profesional. Kita pura-pura nggak kenal”

Dan  sejak itu aku tak pernah lagi mau menemuinya.  Aku tak mau berpura-pura tak mengenalnya.  Aku berniat tak mengenalinya seumur hidupku.  Terlalu sakit, saat seseorang yang kita cintai memaksa agar kita bersandiwara untuk tak mengenalinya.

Sejak itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya.

Kabar yang kudengar, lelaki kaya pasangannya itu meninggal dunia secara mendadak.  Jahatnya lagi, orang-orang di komunitas bergosip katanya dia kena AIDS.  Bah, orang-orang gay memang begitu.  Kalau ada yang mati mendadak, dibilangnya itu pasti kena AIDS. Bisa saja dia mati mendadak karena serangan jantung atau penyakit dalam lainnya.

Yang jelas, hal ini berimbas pada pasangannya.

Pasangannya pasti dituduh tertular AIDS juga.  Padahal belum tentu begitu, bukan?  Ada bisik-bisik bahwa Firmanpun tertular Aids. Yang jelas saat itu Firman turut jatuh sakit.  Badannya tak bisa gemuk lagi.  Entah memang dia sudah tertular AIDS ataukah dia memang merana ditinggal lelaki pasangannya itu.  Merana ditinggal mati.

Ah sudahlah, aku sudah melupakan peristiwa yang menyakitkan itu.

*

“Gemukkan badanmu, FIR. Biar kelihatan seger,” itu pesan yang kukirimkan untuknya. 

Jujur, dia yang sekarang masih berumur 35 tahun memang terlihat layu.  Firman kurus, kering dan tampak tua.  Kulit wajahnya nampak kering dan kusam.  Sangat berbeda dengan tampilannya 10 tahun yang lalu.  Ya Tuhan, aku ikut sedih melihatnya seperti ini.

“Thanks, LOV” balasan smsnya.


**


Pagi ini aku berangkat kerja dengan penuh semangat.  Sudah kususun rencana-rencana dalam seminggu. Mudah-mudahan nggak ada lagi rencana kerja yang tercecer hingga membuatku pontang-panting menyelesaikan deadline laporan-laporan.

Dalam perjalanan menuju kantor terlintas satu pikiran bahwa selama ini aku telah salah.  Aku selama ini hanyalah pemuja daging dan kulit. Ketampanan hanyalah sebatas ketebalan kulit kita.  Sementara kegagahan hanyalah setebal lapisan daging kita.

Terbukti Firman yang dulu digila-gilai orang karena ketampanan dan kegagahannya itu, tak ada artinya lagi di mataku.  Ketampanannya hilang karena badannya yang menyusut drastis.  Kegagahannya juga hilang karena tubuhnya yang tak lagi berdaging.

Astaghfirullah!

No comments: