Introspeksi Diri



Bulan Juni telah tiba.  Banyak hal yang telah terjadi di bulan-bulan kemarin.  Tak ada yang spesial memang, semua berjalan biasa-biasa saja.  Kegiatanku juga masih berkutat pada kerja, libur, bersenang-senang dan beristirahat.

Bagaimana dengan percintaan?

Masih flat saja.  Akhir-akhir ini aku malah sering bertanya-tanya pada diriku sendiri.  Apa sih yang sebenarnya kau cari, LOV?  Lelaki seperti apa lagi yang kau cari?  Pria dengan kriteria yang bagaimana yang bisa membuatmu jatuh hati?

Lelaki muda, berparas tampan dan berpenis besar sudah kau dapat!  Tapi dia tak juga sanggup membuatmu jatuh cinta.  Jawabnya simpel saja.  Aku merasa dia bukanlah lelaki yang tepat untukku.  Aku terpaksa harus menolak cintanya.  Aku tak pernah benar-benar mencintainya.
   
Lelaki berusia menengah, good at sex, good as friend juga sudah kau dapat!  Tapi dia juga belum dapat meluluh lantakkan hatimu.  Jawabnya simpel juga.  Ada sisi sisi dalam hidupnya yang aku tak suka.  Ini berkaitan dengan gaya hidup.  Dia masih suka bersenang-senang, sementara aku ini aslinya orang rumahan.  Udah nggak nyaman lagi kalau harus clubbing.  Guys, it so yesterday for me.

Mungkin memang aku ditakdirkan untuk hidup sendiri saja.

Sungguh, aku merasa nyaman dengan diriku sendiri.  Aku merasa tak terbeban dengan apapun saat aku sendiri.  Bahkan saat tak ada uang, aku juga tak terbeban.  Bagaimana caraku kalau sedang bokek? Kutinggal tidur saja, menunggu hingga gajian tiba. Beda kan kalau statusnya sedang berpacaran?  Apalagi kalau pacar kita itu senangnya menggantungkan diri pada pasangan.  Bisa mati berdiri gue menuruti keinginannya yang serba wah.

Ah, sudahlah ... mengeluh terlalu bayak itu tak baik, kan!

Jadi sebaiknya aku mulai mengisi hidupku dengan sejumlah kegiatan yang positif saja.  Menambah wawasan dan ilmu, jelas sebuah keharusan.  Bagiku  proses belajar itu harus berlangsung seumur hidup.  Setiap hari harus ada something new yang harus aku pelajari.

Eh ... jujur aku juga ingin mendekatkan diri pada Allah, lho!

Harus kuakui, hampir enam bulan kemarin  hubunganku dengan Tuhan jelek.  Sangat jelek malah.  Sholatku masih banyak yang bolong-bolong.  Puasa sunah juga tak ada yang aku lakukan.  Apalagi kegiatan-kegiatan agama yang lain.  Satu-satunya yang kulakukan hanya berdoa dengan sangat ikhlas di pagi hari saat bangun tidur.  Aku tak pernah lupa mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Allah atas kesempatan hidup yang dia berikan padaku hingga hari ini. 

Ya, saat ini hanya itu yang bisa kulakukan.

At least aku masih bertekad untuk menjadi pribadi yang baik.  Menjadi pribadi yang tidak menyusahkan orang lain.  Tidak merugikan orang lain.  Kalau bisa, aku ingin menjadi pribadi yang berguna buat orang lain.  Setidaknya menjadi orang baik di mata keluarga kecilku.  Itu saja. 

Amin.

HOT HUNK TODAY








Two Father & a Baby

Mungkin begini ya konsepnya kalau 'gay' berkeluarga!

Nggak lengkap rasanya kalau hidup berdua saja tanpa anak.  Hubungan mungkin akan membosankan.  Jadi perlu satu orang lagi buat menyegarkan hubungan diantara dua orang.  Salah satu solusinya adalah mengadopsi anak.

Hmm ... lucu juga, kale ya?








Sang Petualang (2)



 foto by Bubum G


Depa terlihat kian bersemangat.  Dia mulai menggeluti tubuhku dengan kasar.  Dia ciumi pipiku, leherku hingga kulit di sekitar ketiakku.  Aku mengejang.  Menggelinjang.  Bisa kurasakan geli yang teramat sangat.  Aku paling tak tahan kalau digelitiki di bagian ketiak.

Kuarahkan bibirnya ke putingku.

Depa mulai menjilat, menghisap  dan mengulum putingku.  Sedotannya itu benar-benar enak.  Lidahnya berhasil membangunkan seluruh persyarafan yang ada di dalam diriku.  Aku memeluknya kian rapat.  Tubuh kami seolah bersatu padu tak terpisahkan.  Kakiku secara otomatis menjepit ke pinggang Depa.
Tapi Depa terlihat masih memejamkan matanya.  Yang terlihat hanya putih matanya saja.

“Heeeehhh ...,” kataku pada Depa sambil menggigit bahunya.
“Addduuhhh ...  ojo digigit mas.  Sakit”
“Lha kamu kog merem terus”
“Iya tha, Nggak sadar mas, saking enake”
“Hahaha ... lanjuuuuttt!”

Aku mencium bibirnya yang tebal.  Atas dna bawah secara bergantian.  Depa membalas ciumanku dengan penuh bernafsu.  Sambil berciuman, kami saling menggesekkan badan kami.  Bisa kurasakan, penisnya yang mulai keras menyentuh penisku yang juga sudah mulai keras.

“Mas ...”
“Hmm ..”
“Nggak wis ...”
“Lho kenapa? Ngomong aja”
“Nggak jadi ...” katanya sambil rebah di samping kananku.
“Nggak jadi ML?”
“Hmm ...”
“Nggak papa kog ...” kataku sambil menarik selimut yang ada di sisi kiriku.

“Lho kog malah selimutan?”
“katamu batal?”
“Siapa yang bilang?”
“Lha kamu udah mandeg”
“Nggaklah. Ayo teruskan lagi”
“Ogah”
“Kog?”
“Iya. Tadi mau nanya apa dulu?”
“Nanti mas marah”
“Gak”
“Bener?”
“Iya.  Mau tanya apa?”

Depa diam lagi.  Pandangan matanya entah kemana.  Sepertinya dia memang sengaja tak melihat ke dalam mataku.  Mungkin dia takut melihat bola api kemarahan di mataku.  Aku memang marah kalau enak-enak bercinta tapi harus keputus gara-gara alasan yang tak penting ini.

“Mas T atau B?”

Huahahahahaha ... bocah bodoh!  Kupikir mau nanya hal yang penting atau yang gawat gitu.  Lha kog malah nanya tentang  posisiku sebagai TOP atau BOTTOM.  Jelaslah sudah bahwa Depa bukanlah lelaki yang expert.  Dia ini memang gayanya saja yang terlihat bak Don Yuan.

“Kog ketawa?”
“Lucu aja”
“Lucu kenapa?”
“Pertanyaanmu itu”
“Lucu ya?” kata Depa bingung,”Trus gimana?”
“Kamu ini memang gak tahu apa pura-pura gak tahu?”
“Sumpah gak tahu!”
“Oke. Oke. Tak kasih ilmu ya.  Kalau cowok saat pemanasan udah mengangkat kakinya ke pinggangmu, itu artinya dia bottom.  Bisa saja dia versatile”
“Gitu ya?”
“Iya.  Kalau kakinya udah melingkar dipinggang dan nafasnya udah memburu ... itu artinya dia sudah siap di tujes”

“Tujes? Apa tuh?”

“Tusuk dengan penismu, sayaaaaaannngggg ....” kataku gemas.

Depa manggut-manggut.
Entah, apakah itu berarti dia sudah mengerti atau masih tetep bingung.

HUH!

Bor-Boran Mojokerto

Sudah ada yang pernah pergi ke Mojokerto, Jawa Timur?

Di Mojokerto terkenal ada obyek wisata (gay) lho!  Selain Wisata Pemandian air panas di Pacet, ada lokasi pemandian air panas baru.  Orang-orang menyebutnya Bor-Boran.  Kalau malam hari, mulai jam 6 sampai dengan jam 10 malam banyak sekali  para gay yang mandi disini.

\
Nih beberapa foto di Pemandian Bor-Boran:






Peta Bor-Boran Mojokerto


 

SANG PETUALANG (1)


Huah ... akhirnya tiba juga di rumahku tercinta!

Tiga jam sudah kami, aku dan Depa, melewati jalanan menuju  ke Kota Malang.  Aku sendiri heran, bagaimana kami  bisa seakrab ini?  Rasanya seperti tak ada batas lagi di antara kami.  Aku dan dia saling bercerita tentang apa saja.  Tentang kisah cinta, tentang artis, tentang keluarga dan tentang keinginan-keinginan kami.  Juga gosip-2 yang tengah melanda teman-teman kami.  Padahal inilah pertama kali kami bertemu.

“This is my home ...”
“Nice”
“Ah katamu rumahku berhantu”
“hahaha iya. Kamu hantunya”
“Asem”


Kami langsung masuk rumah.  Sudah hampir sebulan lebih rumah ini tidak aku kunjungi.  Nampak beberapa sarang laba-laba di sudut atap.  Debu juga nampak bertebaran di lantai rumah.  Depa langsung mengambil sapu dan mulai menyapu.

“Walah ... mbayar berapa aku nanti, ya?”
“Kenapa?”
“Bayar Inem Pelayan Seksi”
“Anjrit.  Bayar pake  ini aja ...” kata Depa sambilmenyentuh pantatku.

Aku  melenggang.  Jengah aja saat ada seseorang mulai menyentuh-nyentuh pantatku.  You know, pantat adalah asetku yang paling berharga.  Kalian pasti ketawa.  Sumpah!  Kalian bisa bayangkan hidup tanpa pantat?  Pabrik celana jins bakal tutup.  Pabrik pampers juga bankrut.  Pabrik underwear gulung tikar.  Pabrik kondom dan aneka pelicin juga bakal nganggur.

Nah, udah tahu pentingnya pantat, bukan?

“Aku capek, DE ...” kataku seraya berbaring di kasur kamar depan.
“Tidur aja. Tadi kan kamu terus yang di depan”
“Nggak bisa tidur”
“Kenapa?”
“Maunya sama kamu”

Depa melengos.

“Manja. Tua-tua masih manja ...” katanya.
“Iyalah. Pliisss ... come here, beib”
“Iya ... bentar ...”

Depa langsung menyusul berbaring di sebelahku.  Langsung kuraih tubuhnya.  Kucium pipinya kanan dan kiri. Kukecup bibirnya pelan.  Kuhisap kulit dagunya.  Aku suka dengan bentuk dagunya yang terpecah dua.  Mengingatkanku si Mario, bintang Latin idolaku.

“Lov ... kamu suka aku?”
“Nggak”
“Kog mesra gini”
“Emang nggak boleh?”
“Boleh sih”
“Trus?”
“Kamu gini juga sama semua cowok?”
“Gaklah. Lihat dulu cowoknya”
 “Hmm ... “

Depa terdiam.  Sepertinya ada sesuatu yang sedang dipikirnya.  Lagaknya seperti para politisi yang sedang berpikir tentang kelangsungan hidup negara saja.

“Mikir apa,sayang?” kataku sambil membelai kepalanya.
“Mikir kamuuu ...” katanya sambil menyentil ujung putingku.
“Ah gombal kamu”
“Iya, sayang ...”
“What do you think ‘bout me?”
“Gak”
“Tuh kamu sendiri kan yang gak jelas”
“Lov ...”
“Hmm ...”
“Kapan kamu ajak aku ke sini lagi?”
“Ngaco ya kamu.  Ini kita aja belum pulang”
“Iya. Tapi ...”
“Tapi apa?”
“Kamu bakal pakai aku sekali aja kan”
“Ngawur”
“Jadi?”
“Tergantung”
“Tergantung apa?”
“It depends on you.”
“Kog tergantung aku?”
“ya, kalau kamu bagus, mungkin kita bisa awet”
“Bagus gimaa maksudmu?”
“Good at sex. Good as friend”

Depa terdiam.  Tidak benar-benar diam, cos tangannya mulai nakal.  Ujung jemarinya mulai bergerilnay masuk ke dalam celana jeansku.  Jari-jemarinya bergerak seperti jari-jari gurita, bergerak cepat dan tepat menyentuh titik-titik G-Spotku.

Aku menggelinjang hebat saat tangannya mulai merabai anusku.  Gerakannya lembut dan sama sekali tak membuatku kesakitan.

Dari sini aku tahu, Depa adalah lelaki yang berpengalaman.  Aku mencoba melihat ke dalam matanya.  Dia sama sekali tak melihatku.  Matanya menutup.  Eh, bagaimana bisa dengan mata tertutup dia sanggup mengetahui titik-titik rangsangku?

Jangan-jangan dia ini pemilik jurus si Buta dari Gua Hantu?

Statistik Blog



Ya Tuhan ... aku bener-bener nggak menyangka bahwa pembaca blogku sekarang ini sudah mencapai ribuan orang per-harinya.

Menurutku pribadi, ini pencapaian yang sangat amazing buat sebuah blog yang ditulis secara asal-asalan.  Nggak gampang lho  mendapatkan pembaca sebuah blog dalam jumlah ribuan per-hari.  Jadi aku bilang blog ini adalah blog fantastis. Hehehe ... sedikit narsis, boleh kan?

Sekedar mengingatkan, bahwa tujuanku menulis kisah di blog ini senmata hanya untuk bercerita.  Semoga saja ada hal positif yang bisa di ambil di dalam kisah-kisahku.  Bukan melulu, kisah xxx-nya saja.

The last, mohon maaf jika ada pembaca blog ini yang merasa tersinggung atau tak berkenan dengan penulisan kisahku ini.  Demi Tuhan, saya hanya ingin berbagi kisah. Saya sadar, para gay di luar sana juga butuh bacaan yang nyata, bukan sekedar bacaan fiktif.

So gays ... kalau kamu butuh bacaan yang nyata, ya blog ku inilah jawabannya.

Cos semua yang ada di blogku ini adalah kisah nyata.  Beberapa nama dan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita sengaja aku rubah agar tak ada yang merasa terluka dengan penulisanku ini.